Senin, 14 Oktober 2013

Cerita Hikmah, MAHA GURU DAN SEORANG SUFI



Maha Guru dan Seorang Sufi
Dikisahkan Syekh Abu Dairy adalah seorang ulama’ terkenal, beliau menguasai puluhan kitab bahkan ratusan kitab, santrinya banyak mencapai ribuan, dan beliau dikenal sebagai Maha Guru, suatu saat Syekh Abu Dairy mengalami kegundahan hati, akhirnya beliau sholat malam untuk minta petunjuk kepada Allah bagaimana caranya untuk mengatasi kegundahan hatinya, maka Allah memberi isyarah lewat mimpi, Syekh Abu Dairy bertemu dengan malaikat dan malaikat itu memberi petunjuk : “Carilah Adi Sufi, kegundahanmu akan hilang saat engkau bertemu dengannya”.
Keesokan harinya saat Syekh Abu Dairy bangun, maka dia menyuruh salah seorang santrinya untuk mencari Adi Sufi. Dan santrinya setelah mencari beberapa hari akhirnya mendapat informasi tentang Adi Sufi, dia tinggal di rumah yg amat sederhana, dindingnya bambu dan lantainya tanah.
Santri tadi langsung bilang, ada seorang yang namanya Adi Sufi tapi dia itu orang miskin yg kelihatannya bodoh, kenapa Syekh Abu Dairy ingin menemui dia? sang Syekh Abu menjawab : “sudahlah, sekarang antarkan aku ke rumah Adi Sufi tersebut”. Setelah menempuh perjalanan, maka sampailah Syekh Abu Dairy dan santrinya ke rumah Adi Sufi yg sederhana tersebut.
Syekh Abu Dairy : “Assalaamu’aikum Ya Adi Sufi.”
maka Adi Sufi membukakan pintu dan menjawab : “Wa’alaikumussalam, silahkan masuk kalian berdua.”
setelah ketiganya berada di dalam rumah, Adi Sufi menanyakan maksud kedatangan tamunya ini dan bertanya : “siapa anda-anda ini kok tiba-tiba datang ke rumahku yang sederhana ini ?”
Syekh Abu Dairy menjawab : “Saya Syekh Abu Dairy dan ini salah satu santri saya, saya datang kemari ingin minta saran kepada anda?”
Adi Sufi menjawab : “Ooo…anda ulama yang terkenal itu ya, apakah anda merasa mampu jadi seorang guru ?
Syekh Abu Dairy menjawab : “Ya, saya mampu.”
maka Adi Sufi berkata : “Kalau sudah merasa mampu, buat apa kemari. pulang saja sana… gak ada gunanya kau kemari.”
santri Syekh Abu Dairy tidak terima gurunya dihina, santri tersebut bilang pada gurunya : “Syekh.. lebih baik kita pulang, benar kan perkiraan saya dia hanyalah orang miskin yang bodoh.”
Syekh Abu Dairy langsung menatap tajam ke arah santrinya itu dan berkata : “Diam, kau ini tidak mengerti apa-apa !.
akhirnya sang santri diam dan Syekh Abu Dairy berkata pada Adi Sufi : “Tolong saya, saya belum mampu menjadi guru, saya tidak mengerti apa-apa.”
Dengan pengakuan yang tulus ini akhirnya Adi Sufi tidak jadi mengusir Syekh Abu Dairy dan berkata : “Baguslah kau sadar…
sekarang saya akan ajukan pertanyaan yang mudah, bila bisa menjawab, maka kau layak jadi guru. namun bila belum dapat menjawab, maka kau masih perlu belajar lagi.”
Adi Sufi : pertanyaan pertama, tahukah engkau cara makan yg benar ?.
Syekh Abu Dairy : “Tahu.. pertama baca bismillah, kemudian makan dengan tangan kanan dan berhenti sebelum kenyang.”
Adi Sufi : “salah…! dasar bodoh..! pertanyaan yang mudah saja tidak bisa kau jawab, aneh sekali kau ini kok bisa menjadi Syekh / guru besar.”
Santri yg tidak tahan gurunya dihina untuk kedua kalinya berkomentar : “Hai bodoh..! jangan menghina guruku. beliau itu Maha Guru, kau itu tidak ada apa-apanya. Guru.. ayo kita pulang saja, percuma bicara sama orang bodoh !.
Syekh Abu Dairy langsung marah pada santrinya : “Diam..! ini urusanku dengan Adi Sufi. bila kau tidak suka, maka pulang saja sendiri…!” maka sang santri ketakutan dan terpaksa diam dengan hati yang mendongkol.
Syekh Abu Dairy : “Iya saya bodoh, tolong pertanyaan yang lain lagi, Insya Allah saya bisa menjawabnya.”
Adi Sufi : “pertanyaan kedua, tahukah engkau cara tidur yang benar ?
Syekh Abu Dairy : “Tahu.. sebelum tidur saya berwudhu’ dulu, kemudian saya berbaring sebagaimana berbaringnya Rosulullah SAW sewaktu tidur dan sebelum saya memejamkan mata, maka saya membaca do’a sebelum tidur dan surat al-Ikhlas 7 kali.”
Adi Sufi : “salah lagi…. sekarang coba kau jawab pertanyaan yang ketiga, ini yang paling penting karena kau adalah guru agama. bagaimana cara kau mengajarkan agama ?
Syekh Abu Dairy : “Aku mengajarkan agama berdasarkan Qur’an dan Hadits, dan setiap hari, kuajar mereka dengan materi baru yang berbeda agar para santriku tidak bosan menerima pelajaranku.”
Adi Sufi : “salah…..! jawaban kamu salah semua.”
Syekh Abu Dairy : “kalau begitu, berilah petunjuk pada diriku yang bodoh ini.”
Adi Sufi : “baiklah bila kamu telah mengakui kekuranganmu, sebenarnya jawabanmu semua tadi itu benar, tapi benar bagi orang-orang yang tingkatannya masih kesadaran mata. sedangkan engkau adalah seorang guru, maka harusnya kau lebih tinggi tingkatannya, yaitu tingkatan kesadaran akal. ini aku beri penjelasan untuk soal pertama sampai ketiga
1. Cara makan yang benar adalah lihat dulu makanannya halal atau haram, suci apa najis, kalau makan babi walau kau baca bismillah 1000x tetap akan membuatmu berdosa. Setelah jelas-jelas tahu bahwa makanan itu adalah halal dan suci, barulah melakukan seperti apa yang kamu jawab tadi.
2. Cara tidur yang kamu katakan tadi sebenarnya tidak seluruhnya salah, jawabanmu masih kurang tepat, bagi orang yang berakal tidak cukup hanya dzhohirnya saja yaitu berwudhu’ dan berdoa, tapi juga hatimu sewaktu belum tidur harus bersih dari iri dengki dan juga memaafkan semua kesalahan manusia serta bersih dari rasa cinta dunia, sehingga tidurmu adalah tidur yang diridhoi Allah. walaupun kau berwudhu’ dan berdoa, tapi sebelum tidur di hatimu masih ada rasa iri dengki atau dendam serta rasa cinta dunia yang mengalahkan cintamu pada Allah, maka tidurmu adalah tidur yang dimurkai Allah SWT.
3. Cara mengajar yang kamu jawab tadi itu bisa dilakukan oleh semua orang, tidak hanya kamu, orang kafir pun yang mempelajari Qur’an dan Hadits, dia juga bisa mengajar seperti kamu, dan inti mengajar agama adalah harus disertai rasa ikhlas dan hanya mengharap ridho Allah, bukan pujian, lebih-lebih bayaran….. faham kamu sekarang Abu Dairy..!
Syekh Abu Dairy : “terima kasih Adi Sufi, sekarang hilanglah kegundahan hatiku, atas ilmu yang kamu berikan padaku. dan kamu santriku… janganlah terlalu mudah menyimpulkan orang hanya dari penampilan, keadaan atau kata katanya yang kelihatan kurang sopan, terkadang dia hanya menguji kamu, sampai dimana akhlakmu, dan rupanya kamu harus belajar tashawwuf sama Adi Sufi supaya bisa berakhlak dengan benar, dan sekarang minta maaflah pada Adi Sufi.. !
Santri Syekh Abu Dairy : “Maafkan kelancangan saya tadi wahai Syekh Adi Sufi…, saya tadi salah paham, setelah mendengarkan penjelasan anda, baru saya tau ternyata anda adalah orang ‘alim.
Adi Sufi : “Ya saya maafkan dan tidak apa apa. sikap kamu membela guru kamu itu juga akhlak yang baik, tapi cara kamu saja yang kurang baik. walau tujuan kamu benar, tapi kalau kamu pakai cara yang salah, sungguh demi Dzat Yang menguasai langit dan bumi, maka kebenaran tersebut sulit untuk diterima.”
Dari cerita ini, lihatlah perbandingan jawaban Abu Dairy (kesadaran mata) dan jawaban adi sufi (kesadaran akal) dan dalam kisah tersebut juga diterangkan adab seseorang yang minta petunjuk, maka tidak boleh merasa mampu / merasa bisa, kerana bila masih ada rasa  seperti ini, maka sulit untuk menerima ilmu yang lebih tinggi tingkatannya.
kami akhiri, semoga kita semua selalu dalam ridho dan hidayah dari Allah Ta’ala. Aamiin … Allaahumma Aamiin…

Tidak ada komentar: