Senin, 21 Oktober 2013

Cerita Hikmah, GUBERNUR PALING MISKIN DI ZAMAN SAYYIDINA UMAR BIN KHOTTOB



Pembaca, percayakah engkau kalau ada Gubernur, menteri, DPR, Presiden atau pejabat pemerintah yang hidupnya serba dalam kekurangan? Mungkin tidak ada untuk zaman sekarang ini, apalagi di negeri ini yang mau tidak mau dapat dikatakan bahwa ketika ada seseorang yang menjabat sebagai pemimpin langkah yang pasti diambilnya adalah bagaimana dapat mengembalikan atau kalau bisa mendapat keuntungan yang banyak selama ia menjabat karena untuk mengembalikan uang kampanye yang dilakukan sebelum menjadi pemimpin.

Pembaca, tentu kita rindu dengan sosok pemimpin yang tidak hanya mementingkan dirinya sendiri. Pemimpin yang mau bercampur baur dengan rakyatnya. Pemimpin yang tak pernah bosan mendengar keluhan rakyatnya. Pemimpin yang selalu adil dan mengayomi. Pemimpin yang sederhana dan tidak menumpuk harta kekayaan.

Rasulullah SAW adalah potret pemimpin yang sangat hebat lagi luar biasa. Betapa tidak, di saat pemimpin-pemimpin di dunia lainnya asyik dan nyenyak tidur di atas permadani lembut nan empuk. Beliau justru tidur di atas pelepah kurma yang sampai-sampai membekas di bahu beliau. Menyaksikan dengan mata kepala sendiri, manusia suci nana gung dunia akhirat hidup dalam keadaan seperti itu Umar bin Khattab pun tak sanggup menahan air matanya untuk keluar. Ia menangis dan sedih melihat manusia yang paling dicintainya hidup dalam keadaan seperti itu, sementara para pemimpin lainnya asyik dan nyenyak di atas tempat tidurnya.

Pembaca, itu baru mengenai tempat tidur Nabi SAW, belum lagi sisi-sisi lain kehidupan Nabi Muhammad SAW yang sangat sederhana. Itulah kehidupan sehari-hari pemimpin agung yang selalu akan kita temukan kisah mengagumkan dalam setiap aspek dan sisi kehidupan beliau. Bandingkan dengan pemimpin-pemimpin sekarang yang sering mengobral janji di kala kampanye, tapi lupa diri ketika jabatan yang diinginkannya telah ia rengkuh.

Pembaca, sifat-sifat terpuji itu pun menular di kalangan para sahabat beliau SAW, kita bias saksikan bagaimana kehidupan sehari-hari Abu Bakar, Umar dan para sahabat lainnya yang sangat sederhana meski diamanahi menjadi pemimpin dan pejabat. Di antara kisah-kisah mengagumkan mengenai bagaimana sederhana dan hebatnya para sahabat beliau SAW dalam kehidupannya meski menjabat sebagai gubernur atau pejabat adalah kisah sahabat Sa’id bin Amir Al-Jumahi ra. Beliau adalah sahabat Rasulullah SAW yang juga menjabat sebagai gubernur di wilayah Hims pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab ra.

Sejarawan Islam Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya menempatkan tokoh sepanjang zaman ini dalam urutan pertama dalam kitabnya Shuwarum min Hayatis Shahabat. Bahkan Sayyidina Umar pun terpana melihat budi kepemimpinannya.

Pembaca, beliau termasuk seorang pemuda di antara ribuan orang yang pergi ke Tan’im, di luar kota Mekah. Mereka berbondong-bondong ke sana, dikerahkan para pemimpin Quraisy untuk menyaksikan pelaksanaan hukuman mati terhadap Khubaib bin Adi, yaitu seorang sahabat Nabi yang mereka hukum tanpa alasan. Dengan semangat muda yang menyala-nyala, Said maju menerobos orang banyak yang berdesak-desakan. Akhirnya dia sampai ke depan, sejajar dengan tempat duduk orang-orang penting, seperti Abu Sufyan bin Harb, Shafwan bin Umayah dan lain-lain. Kaum kafir Quraisy sengaja mempertontonkan tawanan mereka dibelenggu. Sementara para wanita, anak-anak dan pemuda, menggiring Khubaib ke lapangan maut. Mereka ingin membalas dendam terhadap Nabi Muhammad SAW, serta melampiaskan sakit hati atas kekalahan mereka dalam perang Badar.

Ketika tawanan yang mereka giring sampai ke tiang salib yang telah disediakan, Said mendongakkan kepala melihat kepada Khubaib bin Adi. Said mendengar suara Khubaib berkata dengan mantap, ”Jika kalian bolehkan, saya ingin shalat dua rakaat sebelum saya kalian bunuh…” Kemudian Said melihat Khubaib menghadap ke kiblat (Ka’bah). Dia shalat dua rakaat. Alangkah bagus dan sempurnanya shalatnya itu. Sesudah shalat, Khubaib menghadap kepada para pemimpin Quraisy seraya berkata, ”Demi Allah! Seandainya kalian tidak akan menuduhku melama-lamakan shalat untuk mengulur-ngulur waktu karena takut mati, niscaya saya akan shalat lagi.” Mendengar ucapan Khubaib tersebut, Said melihat para pemimpin Quraisy naik darah, bagaikan hendak mencincang-cincang tubuh Khubaib hidup-hidup.

”Sukakah engkau si Muhammad menggantikan engkau, kemudian engkau kami bebaskan?” kata salah seorang pembesar Quraisy dengan nada sombong dan mengejek.

“Saya tidak ingin bersenang-senang dengan istri dan anak-anak saya, sementara Nabi Muhammad tertusuk duri.” jawab Khubaib mantap.

“Bunuh dia! Bunuh dia!” teriak orang banyak. Said melihat Khubaib telah dipakukan ke tiang salib. Dia mengarahkan pandangannya ke langit sambil berdoa,”Ya Allah! Hitunglah jumlah mereka! Hancurkan mereka semua. Jangan disisakan seorang jua pun!”

Tidak lama kemudian Khubaib menghembuskan nafasnya yang terakhir di tiang salib. Sekujur tubuhnya penuh dengan luka-luka karena tebasan pedang dan tikaman tombak yang tak terbilang jumlahnya. Setelah peristiwa itu kaum Kafir Quraisy kembali ke Makkah biasa-biasa saja. Seolah-olah mereka telah melupakan peristiwa maut yang merenggut jiwa Khubaib dengan sadis. Tetapi Said bin Amir al-Jumahi yang baru menginjak usia remaja tidak dapat melupakan Khubaib walau ‘sedetik pun’. Sehingga dia bermimpi melihat Khubaib menjelma di hadapannya.

Dia seakan-akan melihat Khubaib shalat dua rakaat dengan khusyu’ dan tenang di bawah tiang salib. Seperti terdengar olehnya rintihan suara Khubaib mendoakan kaum kafir Quraisy. Karena itu Said ketakutan kalau-kalau Allah SWT segera mengabulkan doa Khubaib, sehingga petir dan halilintar menyambar kaum Quraisy.

Dengan Keberanian dan ketabahan Khubaib yang disaksikan dengan mata kepala oleh Said bin Amir dalam menghadapi maut mengajarkan kepada Said beberapa hal yang belum pernah diketahuinya selama ini.

Pertama, hidup yang sesungguhnya adalah hidup beraqidah, beriman, kemudian berjuang mempertahankan aqidah itu sampai mati.

Kedua, iman yang telah terhunjam di hati seseorang dapat menimbulkan hal-hal yang ajaib dan luar biasa.

Ketiga, orang yang paling dicintai Khubaib ialah sahabatnya, yaitu seorang Nabi yang dikukuhkan dari langit.

Pembaca sekalian, ketahuilah sejak itu Allah SAW membukakan hati Said bin Amir untuk menganut agama Islam. Kemudian dia berpidato di hadapan khalayak ramai, menyatakan, “Alangkah bodohnya orang Quraisy menyembah berhala.” Karena itu dia tidak mau terlibat dalam kebodohan itu. Lalu dibuangnya berhala-berhala yang dipujanya selama ini. Kemudian diumumkannya, mulai saat itu dia masuk Islam.

Tidak lama sesudah itu, Said menyusul kaum Muslimin hijrah ke Madinah. Di sana dia senantiasa mendampingi Nabi SAW. Dia ikut berperang bersama beliau, mula-mula dalam peperangan Khaibar. Kemudian dia selalu turut berperang dalam setiap peperangan berikutnya.

Setelah Nabi SAW berpulang ke rahmatullah, Said tetap menjadi pembela setia Khalifah Abu Bakar dan Umar. Dia menjadi teladan satu-satunya bagi orang-orang mukmin yang membeli kehidupan akhirat dengan kehidupan dunia. Dia lebih mengutamakan keridhaan Allah dan pahala daripadaNYA di atas segala keinginan hawa nafsu dan kehendak jasad.

Kedua khalifah Rasulullah, Abu Bakar dan Umar bin Khattab, mengerti bahwa ucapan-ucapan Said sangat berbobot dan taqwanya sangat tinggi. Karena itu keduanya tidak keberatan mendengar dan melaksanakan nasihat-nasihat Said.

Pada suatu hari di awal pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, Said datang kepadanya memberi nasihat. Kata Said, ”Ya Umar! Takutlah kepada Allah dalam memerintah manusia. Jangan takut kepada manusia dalam menjalankan agama Allah! Jangan berkata berbeda dengan perbuatan. Karena sebaik-baik perkataan ialah yang dibuktikan dengan perbuatan. Hai Umar! Tujukanlah seluruh perhatian Anda kepada urusan kaum Muslimin, baik yang jauh maupun yang dekat. Berikan kepada mereka apa yang Anda dan keluarga sukai. Jauhkan dari mereka apa-apa yang Anda dan keluarga tidak sukai. Arahkan semua karunia Allah kepada yang baik. Jangan hiraukan cacian orang-orang yang suka mencaci.”

“Siapakah yang sanggup melaksanakan semua itu, hai Said?” Tanya Khalifah Umar.

“Tentu orang seperti Anda! Bukankah Anda telah dipercayai Allah memerintah umat Muhammad ini? Bukankah antara Anda dengan Allah tidak ada lagi suatu penghalang?”jawab Said meyakinkan.

Pada suatu ketika Khalifah Umar bin Khattab ra memanggil Said untuk diserahi suatu jabatan dalam pemerintahan. “Hai Said! Engkau kami angkat menjadi Gubernur di Himsh!” kata Khalifah Umar.

“Wahai Umar! Saya mohon kepada Allah semoga Anda tidak mendorong saya condong kepada dunia,” kata Said.

“Celaka engkau!” Balas Umar marah. “Engkau pikulkan beban pemerintahan ini di pundakku, tetapi kemudian engkau menghindar dan membiarkanku repot sendiri.”

“Demi Allah! Saya tidak akan membiarkan Anda,”jawab Said.

Kemudian Khalifah Umar melantik Said menjadi gubernur di Himsh. Sesudah pelantikan khalifah Umar bertanya kepada Said, ”Berapa gaji yang Engkau inginkan?”

“Apa yang harus saya perbuat dengan gaji itu, ya Amirul Mukminin?” jawab Said balik bertanya. “Bukankah penghasilan saya dari Baitul Mal sudah cukup?”

Tidak berapa lama setelah Said memerintah di Himsh, sebuah delegasi datang menghadap khalifah Umar di Madinah. Delegasi itu terdiri dari penduduk Himsh yang ditugasi Khalifah mengamat-amati jalannya pemerintahan di Himsh.

Dalam pertemuan dengan delegasi tersebut, Khalifah Umar meminta daftar fakir miskin Himsh untuk diberikan santunan. Delegasi mengajukan daftar yang diminta khalifah. Di dalam daftar tersebut terdapat nama-nama orang-orang fakir miskin di Himsh, dan betapa mencengangkan Khalifah Umar bin Khattab karena ada nama Said bin Amir al-Jumahi dalam daftar itu.

Melihat ada nama Said bin Amir yang tercantum dalam daftar penerima santunan, Umar lalu bertanya, ”Siapa Said bin Amir yang kalian cantumkan ini?”

“Gubernur kami!” jawab mereka. “Betulkan gubernur kalian miskin?” jawab Khalifah heran.
“Sungguh, ya Amirul Mukminin! Demi Allah! Seringkali di rumahnya tidak kelihatan tanda-tanda api menyala (tidak memasak),” jawab mereka meyakinkan.

Mendengar perkataan itu, Khalifah Umar menangis, sehingga air mata beliau meleleh membasahi jenggotnya. Kemudian beliau mengambil sebuah pundit-pundi berisi uang seribu dinar.

“Kembalilah kalian ke Himsh. Sampaikan salamku kepada Gubernur Said bin Amir, dan uang ini saya kirimkan untuk beliau, guna meringankan kesulitan-kesulitan rumah tangganya,”ucap Umar sedih.

Setibanya di Himsh, delegasi itu segera menghadap Gubernur Said, menyampaikan salam dan uang kiriman Khalifah untuk beliau. Setelah Gubernur Said melihat pundi-pundi berisi uang dinar, pundi-pundi itu dijauhkannya dari sisinya seraya berucap, inna lillahi wa inna ilaihi raji’un (kita milik Allah dan pasti kembali kepada Allah).

Mendengar ucapannya itu, seolah-olah suatu marabahaya sedang menimpanya. Karena itu istrinya segera menghampiri seraya bertanya,”Apa yang terjadi, hai Said? Meninggalkah Amirul Mukminin?”

“Bahkan lebih besar dari itu!” jawab Said sedih. “Apakah tentara kaum Muslimin kalah berperang?” tanya istrinya lagi. “Jauh lebih besar dari itu!” jawab Said tetap sedih. “Apa pulalah gerangan yang lebih dari itu?” tanya istrinya tak sabar. “Dunia telah datang untuk merusak akhiratku. Bencana telah menyusup ke rumah tangga kita,” jawab Said mantap.

“Bebaskan dirimu dari padanya!” kata istri Said memberi semangat, tanpa mengetahui perihal adanya pundi-pundi uang yang dikirimkan Khalifah Umar untuk pribadi suaminya.

“Maukah engkau menolongku berbuat demikian?” Tanya Said.

“Tentu!” jawab istrinya bersemangat. Maka Said mengambil pundi-pundi uang itu, lalu disuruhnya istrinya membagi-bagikan kepada fakir miskin.

Tidak lama kemudian Umar bin Khattab datang ke negeri Syam untuk melihat keadaan di sana, dan ketika beliau singgah di Himsh, penduduknya menyambut dengan hangat dan menyalaminya, maka beliau berkata kepada mereka, “Bagaimana pendapat kalian tentang gubernur kalian?”

Maka mereka mengadukan kepadanya tentang empat hal, lalu Umar mengumpulkan mereka bersama Said bin Amir dan berkata, “Apa yang kalian keluhkan dari gubernur kalian?”.

Mereka menjawab, “Beliau tidak keluar kepada kami kecuali jika hari telah siang.” Maka Umar berkata, “Apa jawabamu tentang hal itu wahai Sa’id?.” Maka ia terdiam sebentar, kemudian berkata, “Demi Allah sesungguhnya aku tidak ingin mengucapkan hal itu, namun kalau memang harus dijawab, sesungguhnya keluargaku tidak mempunyai pembantu, maka aku setiap pagi membuat adonan, kemudian aku tunggu sebentar sehingga adonan itu mengembang, kemudian aku buat adonan itu menjadi roti untuk mereka, kemudian aku berwudlu dan keluar menemui orang-orang.”

Umar berkata, “Apa lagi yang kalian keluhkan darinya?” Mereka menjawab, “Sesungguhnya beliau tidak menerima tamu pada malam hari.” Umar berkata, “Apa jawabmu tentang hal itu wahai Sa’id?” Ia menjawab, “Sesungguhnya Demi Allah aku tidak suka untuk mengumumkan ini juga, aku telah menjadikan siang hari untuk mereka dan malam hari untuk Allah SWT.” Umar berkata, “Apa lagi yang kalian keluhkan darinya?”

Mereka menjawab, “Sesungguhnya beliau tidak keluar menemui kami satu hari dalam sebulan.” Umar berkata, “Dan apa ini wahai Sa’id?” Ia menjawab, “Aku tidak mempunyai pembantu wahai Amirul mu’minin, dan aku tidak mempunyai baju kecuali yang aku pakai ini, dan aku mencucinya sekali dalam sebulan, dan aku menunggunya hingga baju itu kering, kemudian aku keluar menemui mereka pada sore hari.” Kemudian aku berkata: “Apa lagi yang kalian keluhkan darinya?” Mereka menjawab, “Beliau sering pingsan, hingga ia tidak tahu orang-orang yang duduk dimajlisnya.” Lalu Umar berkata, “Dan apa ini wahai Sa’id?” Maka ia menjawab, “Aku telah menyaksikan pembunuhan Khubaib bin Adiy, kala itu aku masih musyrik, dan aku melihat orang-orang Quraisy memotong-motong badannya sambil berkata, “Apakah kamu ingin kalau Muhammad menjadi penggantimu?” maka ia berkata, “Demi Allah aku tidak ingin merasa tenang dengan istri dan anak, sementara Nabi Muhammad tertusuk duri…Dan demi Allah, aku tidak mengingat hari itu dan bagaimana aku tidak menolongnya, kecuali aku menyangka bahwa Allah tidak mengampuni aku… maka akupun jatuh pingsan.

Pembaca yang budiman, itulah kisah mengagumkan dari salah satu sahabat Rasulullah SAW, yang bisa kita ambil pelajaran darinya. Jika memang diamanahi dan dipercaya menjadi pemimpin, maka jadilah engkau pemimpin yang adil dan bisa dijadikan teladan. Pemimpin yang mengayomi dan tidak menumpuk harta kekayaan untuk kepentingan pribadi.

Tidak ada komentar: