Senin, 14 Oktober 2013

Khutbah Idul Adha, 4 PELAJARAN DARI KISAH NABI IBRAHIM AS



الله أكبر ×9 . الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا . الحمد لله الذي أنزل العيد من أكبر شعائر الإسلام . أشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له . إله ابتلى إبراهيم خليله . وأشهد أن سيدنا ونبينا محمدا عبده ورسوله . اللهم فصل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى إله وصحبه كما صليت وسلمت وباركت على سيدنا إبراهيم وعلى إله وسلم تسليما كثيرا .
أما بعد . فياأيهاالمسلمون والمسلمات رحمكم الله . أوصيكم ونفسي بتقوى الله وكونوا مع الصادقين . اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون . الله أكبر ×3 . ولله الحمد .
Kaum Muslimin Sidang Idul Adha yang Dimuliakan Allah.

Di hari yang berbahagia ini kembali kita diingatkan kepada kisah kholilullah nabiyullah Ibrahim AS yang Allah uji kecintaannya, antara cintanya kepada keluarganya  dan cintanya kepada Allah SWT. Dan Alhamdulillah, ternyata sejarah telah membuktikan bahwa cintanya kepada Allah melebihi dari segalanya, hal ini membuat kita benar-benar harus mengambil pelajaran darinya, sesuai dengan firman Allah didalam Al-Qur'an :
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ
Artinya : “Sesungguhnya telah ada contoh teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia.” (QS. Al- Mumtahanah : 4)
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil hamd.
Kaum Muslimin Sidang Idul Adha yang Dimuliakan Allah.
Kalau kita mau merenungkan, maka minimal ada Empat pelajaran berharga yang bisa kita petik dari kisah perjalan hidup nabi Ibrahim AS dan keluarganya.
Adapun pelajaran Pertama adalah : Berbaik sangka kepada Allah.
Dikisahkan bahwa Pada suatu hari, nabi Ibrahim AS terbangun dari tidurnya. Tiba-tiba beliau memerintahkan kepada istrinya Siti Hajar, untuk mempersiapkan diri karena ingin melakukan perjalanan dengan membawa bayinya. Siti hajar pun segera berkemas dimana Pada saat itu nabi Ismail masih bayi dan belum disapih.
Nabi Ibrahim AS bersama keluarganya lalu melangkahkan kaki menyusuri bumi yang penuh dengan pepohonan dan rerumputan, sampai akhirnya mereka tiba di padang sahara. Beliau terus berjalan hingga mencapai pegunungan, kemudian masuk ke jazirah Arab. nabi Ibrahim menuju ke sebuah lembah yang tidak ditumbuhi tanaman, tidak ada buah-buahan, tidak ada pepohonan, tidak ada makanan, dan tidak ada minuman, tempat itu menunjukkan tidak ada kehidupan di dalamnya.
Di tempat itu beliau lalu turun dari punggung tunggangannya, kemudian menurunkan istri dan anaknya. Setelah itu tanpa berkata-kata beliau meninggalkan istri dan anaknya di sana. Mereka berdua hanya dibekali sekantung makanan dan sedikit air yang tidak cukup untuk dua hari. Setelah melihat kiri dan kanan beliau lalu melangkahkan kakinya untuk meninggalkan tempat itu.

Tentu saja Siti hajar terperangah diperlakukan demikian, ia lalu membuntuti suaminya dari belakang sambil bertanya; “Wahai Ibrahim !! mau pergi ke manakah engkau?” Apakah engkau akan meninggalkan kami di lembah yang tidak ada sesuatu apapun ini?"
Nabi Ibrahim AS tidak menjawab pertanyaan istrinya. Beliau terus saja berjalan, dan Siti hajar pun kembali mengulangi pertanyaannya, akan tetapi nabi Ibrahim AS tetap membisu. Akhirnya Siti hajar pun paham bahwa suaminya pergi bukan karena kemauannya sendiri. ia mengerti bahwa Allah memerintahkan suaminya untuk pergi. Maka kemudian ia bertanya; “apakah Allah yang memerintahkanmu untuk pergi meninggalkan kami?. nabi Ibrahim menjawab; “benar“.  Kemudian istri yang shalihah dan beriman itu berkata; ”kalau begitu kami tentu tidak akan tersia-siakan, selagi Allah bersama kami. Karena Dialah yang telah memerintahkan engkau untuk pergi. Kemudian nabi Ibrahim pun terus berjalan meninggalkan mereka.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil hamd.
Kaum Muslimin Sidang Idul Adha yang Dimuliakan Allah.

Lihatlah, bagaimana nabi Ibrahim dan Siti hajar mampu berbaik sangka kepada Allah SWT. mereka meyakini bahwa selagi mereka bersama Allah, maka tidak akan ada yang bisa menyengsarakannya.
Bila kita melihat di zaman sekarang ini, banyak sekali manusia yang frustasi dan sengsara bukan karena sedikitnya nikmat yang Allah berikan kepada mereka akan tetapi karena sedikitnya husnuzhzhon (berbaik sangka) kepada kebaikan Allah SWT, Padahal nikmat yang Allah berikan kepadanya lebih banyak dari pada cobaNya. Oleh karena itu, hendaklah kita harus selalu berbaik sangka kepada Allah SWT, karena Allah SWT pasti tidak akan menyia-nyiakan hambanya yang senantiasa berbaik sangka kepada-Nya dalam segala hal.
Adapun pelajaran kedua adalah : Mencari rezeki yang halal
Setelah Nabi Ibrahim AS meninggalkan istri dan anaknya untuk kembali meneruskan perjuangannya. Siti hajar lalu menyusui nabi Ismail sementara dia sendiri sudah mulai merasa kehausan. Panas matahari di saat itu sangatlah menyengat, sehingga terasa begitu mengeringkan tenggorokan. Setelah dua hari, air yang dibawanya habis, air susunya pun kering. Siti hajar dan nabi Ismail mulai kehausan. Pada waktu yang bersamaan, makanan pun habis, kegelisahan dan kekhawatiran mulai membayangi Siti hajar.
Nabi Ismail mulai menangis karena kehausan. Kemudian sang ibu meninggalkannya sendirian untuk mencari air. Dengan berlari-lari kecil, dia sampai di kaki bukit Shafa. Kemudian dia naik ke atas bukit itu. Di taruhnya kedua telapak tangannya di kening untuk melindungi pandangan matanya dari sinar matahari, kemudian dia menengok ke sana kemari, mencari sumur, manusia, atau kafilah. Namun tidak ada sesuatu pun yang tertangkap pandangan matanya. Maka dia bergegas turun dari bukit Shafa dan berlari-lari kecil sampai di bukit Marwa. Dia naik ke atas bukit itu, barangkali dari sana dia melihat seseorang, tetapi ternyata tidak ada seorang pun yang terlihat.
Siti Hajar lalu turun dari bukit Marwa untuk menengok bayinya. Dia mendapati nabi Ismail terus menangis. tampaknya sang bayi benar-benar kehausan. Melihat anaknya seperti itu, dengan perasaan bingung, kembali Siti hajar bolak-balik antara bukit Shafa dan Marwa, sebanyak tujuh kali.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil hamd.
Kaum Muslimin Sidang Idul Adha yang Dimuliakan Allah.
Ada rahasia yang jarang di kupas dari kejadian ini, Yaitu kesungguhan Siti hajar dalam mencari air.
Sekalipun harus bolak-balik dari Shafa dan Marwa belum mendapatkan air, namun dia tetap terus berusaha. Walaupun akhirnya air itu ada di dekat anaknya sendiri. Ini memberikan pelajaran kepada kita untuk bersungguh-sungguh dalam menjemput rezeki dengan mengeluarkan segala kemampuan yang kita miliki, karena kita diperintahkan Allah bukan hanya untuk melihat hasil, tapi juga usaha dan tenaga yang kita keluarkan dalam mencari rezeki yang halal. Rasulullah SAW sangat mencintai orang-orang yang bekerja keras.
Diriwayatkan bahwa suatu ketika Rasulullah berjumpa dengan Sa’ad bin Mu’adz Al-Anshari. Ketika itu Rasulullah melihat tangan Sa’ad yang melepuh, kulitnya gosong kehitaman seperti lama terpanggang matahari.
Rasulullah bertanya kepada Sa'ad; "ada apa dengan tanganmu ?". Sa’ad lalu menjawab; "Wahai Rasulallah, tanganku seperti ini karena aku mengolah tanah dengan cangkul untuk mencari nafkah keluarga yang menjadi tanggunganku."
Seketika itu, Rasulullah mengambil tangan Sa’ad dan menciumnya seraya berkata; "Inilah tangan yang tidak akan tersentuh api neraka."
Hikmah yang bisa dipetik dari kisah ini adalah terdapat tanggung jawab seorang Sa’ad bin Mu’adz Al-Anshari yang giat bekerja dengan tangannya sendiri dalam mencari rezeki yang halal untuk menafkahi anak dan istrinya. Rasulullah SAW bersabda :
إن الله يحب المؤمن المحترف
Artinya : "Sesungguhnya Allah mencintai seorang mukmin yang giat bekerja." (HR. Thabrani).

Didalam hadits yang lain Rasulullah SAW juga bersabda :
مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَإِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ
Artinya : “Tidak ada makanan seseorang yang lebih baik daripada apa yang dimakannya dari hasil jerih payahnya sendiri. Dan Nabi Daud AS itu, makan dari hasil jerih payahnya sendiri.” (HR. Bukhari).
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil hamd.
Kaum Muslimin Sidang Idul Adha yang Dimuliakan Allah.
Adapun pelajaran ketiga adalah : Berkorban untuk Allah SWT
Ketika nabi Ismail bertambah besar, hati nabi Ibrahim pun tertambat kuat kepada putranya. Hal itu tidaklah mengherankan, dikarenakan nabi Ismail hadir dikala usia Nabi Ibrahim sudah tua. Itulah sebabnya beliau sangat mencintainya. Namun Allah SWT kembali hendak menguji kecintaan nabi Ibrahim AS dengan ujian yang lebih besar lagi, disebabkan karena cintanya itu. Hal ini diceritakan didalam Al-Qur'an tepatnya didalam surah Ash-Shaaffat ayat 102 :
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (102)
Artinya : “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata : “Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.
Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab : “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar”.  (QS. Ash Shaaffat: 102 )
Demikianlah tabahnya nabi Ibrahim AS dalam menjalankan perintah Allah, walaupun yang harus dikorbankan adalah anak kesayangannya sendiri. Anak yang sering beliau tinggalkan dan hanya sesekali dapat bertemu kerana Nabi Ibrahim AS tinggal di Palestin.
 
Seterusnya mari kita perhatikan pula bagaimana ridhanya seorang ibu melepaskan anak kesayangan untuk dikorbankan demi perintah Allah.

Dikhabarkan bahwa, tatkala Iblis datang kepada siti Hajar untuk menggodanya dengan mengatakan : Mengapa engkau biarkan anakmu dibawa oleh Ibrahim untuk disembelihnya ?
 
Maka siti Hajar menjawab : Janganlah engkau berbohong. Apakah engkau berfikir bahwa seorang bapak mau menyembelih anaknya sendiri ?
 
Iblis menggoda lagi : Itulah sebabnya Ibrahim membawa pisau dan tali bersamanya.
 
siti Hajar bertanya : Untuk apa dia menyembelihnya ?
 
Iblis menjawab : Dia mengatakan bahwa dia telah diperintahkan oleh Tuhannya supaya berbuat demikian.

siti Hajar berkata : Seorang Nabi tidak akan diperintahkan untuk melakukan perkara yang salah.
Sedangkan aku saja sanggup menjalankan perintah Tuhan dengan mengorbankan nyawaku, apa lagi dengan mengorbankan nyawa anakku, aku jelas lebih sanggup lagi.
 
Mendengar kata tersebut Iblis kecewa untuk menggoda siti Hajar.

Allahu Akbar… Alangkah taatnya mereka dalam menerima perintah dari Allah. Semoga kita semua juga diberi kekuatan keyakinan, ketaatan dan kecintaan seperti yang dimiliki oleh mereka.
Amin Ya Rabbal Alamin…

Demikian pula Nabi Ismail AS, setelah beliau mengetahui perintah Allah bahwa beliau akan dikorbankan oleh ayahnya, maka sebelum beliau disembelih, beliau telah meminta kepada ayahnya agar dapat menunaikan beberapa permintaannya, diantaranya adalah :
- Wahai ayahandaku !! Ikatlah kedua tanganku dengan kuat supaya aku tidak meronta-ronta, yang berakibat menyebabkan ayah terganggu melaksanakan perintah Allah.
- Wahai ayahandaku !! Telungkupkan wajahku ke bumi supaya tidak dilihat oleh engkau yang akan menyebabkan engkau timbul kasihan kepadaku.
- Wahai ayahandaku !! Singsingkanlah bajumu jauh dariku supaya tidak terpercik oleh darahku, yang menyebabkan berkurangnya pahalaku dan jika dilihat oleh ibuku, maka niscaya dia akan menjadi sedih.
- Wahai ayahandaku !! Tajamkan pisaumu, dan segera potong leherku, supaya aku mudah mati, kerana kematian itu sangatlah menakutkan.
- Wahai ayahandaku !! Bawalah pulang bajuku dan berikan kepada ibu sebagai kenang-kenangan untuknya dariku.
- Wahai ayahandaku !! Sampaikanlah salamku kepadanya, dan hiburlah hatinya supaya dia bersabar atas perintah Allah.
- Wahai ayahandaku !! Jangan engkau ceritakan bagaimana cara engkau menyembelih dan mengikat tanganku dan Janganlah engkau biarkan anak-anak masuk ke rumah ibu supaya tidak bertambah kesedihannya.
- Wahai ayahandaku !! Jika engkau bertemu dengan anak-anak yang sebaya denganku, maka janganlah engkau memandang kepadanya supaya engkau tidak berkeluh-kesah dan bersedih hati.
Setelah mendengar kata-kata itu, maka Nabi Ibrahim pun berkata : Sesungguhnya sebaik-baik pertolongan atas perintah Allah adalah engkau wahai anakku.
Allahu Akbar… Alangkah sabar dan taatnya nabi Ismail AS dalam menerima perintah Allah dan menenangkan hati ayahnya untuk menjalankan perintah Allah. Hal ini telah diabadikan oleh Allah didalam Al-Qur'an, dimana Allah berfirman :
فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ (103) وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ (104) قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (105) إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ (106) وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ (107) وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآَخِرِينَ (108) سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ (109) كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (110) إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ (111)
Artinya : "Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya).
Dan Kami panggillah dia : "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim". Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. (Ash-Shaffat : 103-107)
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil hamd.
Kaum Muslimin Sidang Idul Adha yang Dimuliakan Allah.
Adapun pelajaran keempat adalah : Mendidik Keluarga
Nabi Ismail AS tidak akan menjadi anak yang penyabar jika tidak mendapat pendidikan dari ibunya yang juga bersifat penyabar dan Siti hajar tidak akan menjadi seorang yang penyabar jika tidak dididik oleh suaminya nabi Ibrahim yang sudah tentu juga pasti memiliki sifat penyabar. Dan nabi Ibrahim AS tidak akan bisa menjadi penyabar jika tidak mendapatkan didikan langsung dari Allah yang Maha Penyabar.
Seorang anak, didalam perkembangan kehidupannya, membutuhkan proses yang sangat panjang. peran orang tua dalam membentuk perilaku yang berakhlak mulia sangatlah dibutuhkan. Perhatian yang super ekstra ini, dibebankan oleh agama di atas pundak kedua orang tua. Oleh karenanya, orang tua yang tidak mau memperhatikan pendidikan anak-anaknya maka akan dianggap sebagai orang tua yang mengkhianati amanah Allah. Dan kelak di akhirat nanti pasti ia akan dipintai pertanggung jawabannya oleh Allah SWT. Oleh karena itu wahai saudara-saudaraku !! marilah kita perhatikan pendidikan anak-anak kita terutama di dalam masalah agama. Perhatikanlah sholat mereka, perhatikanlah akhlak mereka dan perhatikan pula lah pergaulan mereka. Semoga Allah SWT senantiasa menjadikan anak-anak kita menjadi anak-anak yang sholeh dan sholehah yang diridhoiNya dunia akhirat. Amin Ya Rabbal Alamin.
جَعَلَنا اللهُ وإيّاكم من العائدين والفائزين . وأدْخَلَنا وإيّاكم في زمرة عباده الصالحين .
أعوذ بالله من الشيطان الرجيم . إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ . فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ . إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ .
بارك الله لي ولكم في القران العظيم. ونفعني وإيّاكم بما فيه من الأيات والذِكر الحكيم. وتقبل مني ومنكم تلاوتَه إنه هو السميع العليم. أقول قولي هذا. وأستغفر الله العظيم لي ولكم. ولسائر المسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات. فاستغفروه إنه هو الغفور الرّحيم.

Khutbah Kedua
ألله أكبر ×7 . ألله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا .
لا إله الا الله والله أكبر . ألله أكبر ولله الحمد .
الحمد لله الذي جَعَلَ الْأعْيَادَ بِالْأفْراحِ والسُّرُورِ . وضَاعَفَ لِلْمُتَّقِيْنَ جَزِيْلَ اْلأُجُوْرِ . وكَمَّلَ الضِّيَافَةَ في يومِ العَيد لِعموم المؤمنين بِسَعْيِهِمُ الْمَشْكُوْرِ .
أشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له الْعَفُوُّ الْغَفُوْرُ . وأشهد أنّ سيَّدَنا ومولانا محمّدًا عبدُه ورسولُه , الذي نَالَ مِنْ رَبِّهِ مَا لَمْ يَنَلْهُ مُقَرَّبٌ ولا رسولٌ مُطَهَّرٌ مَبْرُوْرٌ . اللهم صلِّ وسلِّمْ على سيِّدِنا محمدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ وعلى ألِه وأصحابِه الذين كانوا يَرْجُوْنَ تِجارةً لَنْ تبورَ . وسلِّمْ تسليمًا كثيرًا .
أما بعد . فياأيهاالمسلمون والمسلمات رحمكم الله . اتّقُّوا اللهَ ... واعْلَمُوا أنَّ يومَكم هذا يومٌ عظيمٌ . يتجلَّى اللهُ فيه على عبادِه مِنْ كلِّ مُقيمٍ ومُسافِرٍ . فَيُبَاهِيْ لَكُمْ ملائكتَه وأنتم مُكَبِّرُوْنَ فيه إظهارًا لِشعائِرِه في كل مكانٍ طاهرٍ . فقال الله تعالى ولم يزَلْ قائلا عليما. إن الله وملائكته يصلُّون على النّبيّ ياأيّهاالذين أمنوا صلُّوا عليه وسلِّموا تسليمًا. اللّهمّ صلِّ وسلِّمْ على سيِّدِنا محمدٍ وعلى أله وصحبه والتّابعين . وارْضَ عنهم برحمتك ياأرحم الراحمين . اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأموات.
اللهم ادْفَعْ عنّا البلاءَ والغلاءَ والوباءَ والفحشاءَ والمنكرَ والسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ والشَّدائدَ والْمِحَنَ ما ظهر منها وما بطن عن بلدِنا هذا خاصةً ومِنْ سائرِ بُلْدَانِ المسلمين عامةً . إنّك على كل شيئٍ قديرٌ . ربَّنا اغْفِر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعلْ في قلوبنا غِلًّا للذين أمنوا ربَّنا إنك رَؤُوْفٌ رحيمٌ .
عباد الله ... إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي, يعظكم لعلكم تذكرون. اُذْكُرُوا اللهَ العظيمَ يَذْكُرْكُمْ. واسْئَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ. ولَذِكْرُ اللهِ أكبرُ.

Tidak ada komentar: